Seperti biasa, kemarin haul Tuan Guru Haji Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (1942-2005), atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Guru Sekumpul,” dihadiri oleh lautan manusia, dari orang biasa, para ulama, hingga pejabat negara.
Kotabaru, Kalsel | TAKAM5.COM – Ada beragam alasan yang mendorong orang hadir di haul itu. Namun, dorongan yang paling kuat kiranya adalah cinta. Banyak hal yang membuat Guru Zaini dicintai khalayak. Dia dianugerahi perawakan tinggi, suara yang merdu, dan pengetahuan yang luas. Namun, jika ditelaah lebih dalam, cinta masyarakat kepadanya justru merupakan pantulan dari cinta yang menyala di dalam dirinya sendiri.
Cinta yang membara dalam diri Guru Zaini dan terus dirasakan hingga hari ini adalah cintanya kepada Nabi Muhammad SAW. Cinta itu disalurkannya melalui pembacaan syair-syair Simth al-Durar fî Akhbâr Mawlid Khair al-Basyar (untaian permata tentang cerita kelahiran manusia terbaik), atau lebih dikenal dengan sebutan Maulid al-Habsyi karya Ali bin Muhammad al-Habsyi (1259-1333).
Paling kurang untuk kawasan Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur, lantunan syair-syair Maulid al-Habsyi nyaris identik dengan Guru Zaini. Dari nada membacanya, saat berhenti, meneruskan, berdoa, hingga berselawat. Guru Zaini berhasil mempopulerkan maulid ini sampai ke pelosok-pelosok desa dan menjadikannya sebagai amalan rutin (tidak hanya dibaca di bulan Rabiul Awwal) serta hiburan spiritual.
Prosa dan syair Simth al-Durar merupakan wujud keindahan seni yang berasaskan spiritualitas Islam. Jika orang membacanya atau mendengarkannya dengan khusyuk, apalagi memahami maknanya, dia akan hanyut dalam rasa cinta yang membara kepada Sang Nabi. Ketika syair-syair itu dibaca diiringi dengan irama pukulan terbang, keindahan bunyi, suara, kata, dan makna itu benar-benar berpadu mesra.
Guru Zaini melantunkan syair-syair itu dengan penghayatan cinta, sehingga getarannya tidak hanya sampai ke telinga pendengar, tetapi menusuk jauh ke lubuk hati seluruh jemaah yang hadir. Cinta itu pun terungkap bersama linangan air mata. Ta’allam bukâya wa nuh ya hamâm. Wa khudz ‘an syujûnî durûs al-gharâm (Pelajarilah tangisku, hai burung merpati. Dan ambillah dari isakku, pelajaran cinta).
Tak syak lagi, cinta kepada Sang Nabi itu juga diwujudkannya dalam usaha menyampaikan ajaran-ajaran beliau dengan tekun dan tulus. Selama puluhan tahun, Guru Zaini membacakan kitab-kitab klasik yang tebal-tebal hingga tamat kepada jemaah di majelis taklimnya, dari Keraton hingga pindah ke Sekumpul. Ketekunan semacam itu tidak akan bisa dilakukan kecuali didorong oleh rasa tanggung jawab dan cinta.
Sebagai murid yang baik, Guru Zaini sangat menghormati dan mencintai guru-gurunya. Pada saat yang sama, dia juga sangat mencintai murid-muridnya. Inilah yang membuat hubungan batin antara guru dan murid begitu kental dan kuat. Ketika mengajar, tutur katanya lembut, dan hanya sesekali bernada keras. Budi bahasanya santun kepada siapa saja, lebih-lebih kepada jemaah pengajiannya.
Sebagai seorang tokoh publik yang dikagumi banyak orang, dia pun tidak sepi dari kritik bahkan hinaan dari para pembenci. Namun, setahu saya, tidak pernah hinaan itu dibalasnya dengan hinaan. Bahkan kritik ulama lain terhadapnya perihal masalah agama yang sifatnya khilafiyah, tidak mendorongnya untuk melawan dengan adu argumen. Ia lebih memilih diam daripada ribut-ribut atau malah ‘mengalah’.
Demikianlah, Guru Zaini dicintai masyarakat bukan karena usaha-usaha pencitraan. Cinta itu adalah hasil pergumulan panjang selama hidupnya dalam mencintai Allah, Nabi, dan sesama manusia. Dia menerima cinta yang melimpah karena dia telah memberikan cinta yang melimpah pula. Kita memang hanya bisa memberikan apa yang kita miliki. Guru Zaini memiliki cinta, dan itulah yang diberikannya.
Sungguh wajar jika sosok Guru Zaini semakin dirindukan di masa sekarang, ketika ujaran kebencian tidak hanya disebarluaskan oleh orang biasa, melainkan juga oleh orang yang dianggap sebagai ulama!
(Penulis: Edozed).





