Kotabaru, Kalsel | TAKAM5.COM – Masyarakat Desa Bangkalaan Dayak, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru menggelar ritual adat bewadai pada Rabu (1/4) malam.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Buntar itu dimulai pukul 20.00 WITA hingga Kamis (2/4) pukul 07.00 WITA. Suasana berlangsung khidmat, diwarnai kebersamaan dan nuansa spiritual yang kuat.
Ritual dipimpin oleh Durabil selaku balian (imam adat) setempat. Ia juga diketahui menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kotabaru.
Bewadai merupakan tradisi ungkapan syukur masyarakat atas tanaman padi yang mulai menunjukkan perkembangan positif. Pada fase ini, benih padi mulai keluar atau dalam istilah setempat disebut “padi mulai beampar”, yang menandai awal keberhasilan masa tanam.
Sekitar 20 kandangan atau undangan yang didoakan turut hadir dari berbagai dusun. Sepanjang malam, balian memimpin doa serta rangkaian ritual sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan leluhur atas kesuburan lahan pertanian.
Durabil mengatakan tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk hubungan spiritual masyarakat dengan alam.
“Bewadai ini adalah ungkapan syukur kami kepada Tuhan, alam, dan leluhur. Harapannya, padi yang mulai beampar ini bisa tumbuh dengan baik hingga panen nanti,” ujar Durabil.
Ia menambahkan, melalui ritual ini masyarakat juga memohon agar tanaman terhindar dari hama dan bencana.
“Kami percaya keseimbangan antara manusia, alam, dan adat harus dijaga. Lewat bewadai, kami memohon perlindungan agar hasil panen melimpah,” katanya.
Tradisi bewadai merupakan warisan leluhur masyarakat Dayak di wilayah Kelumpang Hulu yang masih terus dilestarikan hingga kini, terutama dalam siklus pertanian padi ladang. (*)





