TANAH LAUT, KALSEL | TAKAM5.COM — Aktivitas menyadap karet di salah satu kebun warga Desa Asam-Asam, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut, terganggu setelah pemilik kebun mengeluhkan adanya sebaran debu berwarna hitam pekat.

Debu tersebut terlihat menempel di sejumlah bagian kebun, mulai dari daun karet hingga fasilitas yang berada di pondok kebun. Warga menduga debu itu berasal dari aktivitas conveyor di area stockpile PT Arutmin Indonesia Site Asam-Asam yang berada bersebelahan dengan perkebunan.

Keluhan itu kemudian difasilitasi Kepala Desa Asam-Asam melalui pertemuan antara warga dan pihak PT Arutmin Indonesia Site Asam-Asam di Kantor Desa Asam-Asam, Jumat (18/9/2026).

Perwakilan warga, H. Dullah, mengatakan pihaknya meminta penjelasan kepada perusahaan karena kebun karet miliknya berada sangat dekat dengan conveyor yang diduga menjadi sumber sebaran debu.

“Kenapa kami sampaikan ke PT Arutmin, karena hanya conveyor yang diduga menjadi sumber debu itu saja yang dekat dengan perkebunan kami,” ujar Dullah.

Menurut Dullah, kondisi tersebut membuat dirinya dan keluarga sempat tidak melakukan penyadapan karet selama hampir satu pekan. Ia mengaku khawatir debu yang beterbangan terhirup saat bekerja di kebun.

Berdasarkan hasil tinjauan Ketua RT dan kepala dusun ke kebun tersebut, debu berwarna hitam terlihat pada bagian daun karet serta sejumlah fasilitas di pondok, termasuk meja dan atap.

Kondisi di dalam pondok juga menjadi perhatian karena terdapat berbagai perkakas yang digunakan saat bekerja di kebun. Dullah mengatakan keluarganya terkadang membawa anak ketika berada di lokasi perkebunan.

Dalam video yang diterima media ini, Dullah memperlihatkan kondisi kebun dan pondok yang disebut terdampak sebaran debu. Ia mengatakan kondisi tersebut membuat keluarganya khawatir untuk beraktivitas seperti biasanya.

Tak hanya itu, Dullah menyebut terdapat kebun milik warga lain yang menurutnya mengalami kondisi serupa. Namun, pemilik kebun tersebut disebut belum berani menyampaikan keluhan.

Di tengah kekhawatiran tersebut, kebutuhan sehari-hari akhirnya membuat Dullah dan keluarganya kembali menyadap karet.

Ia mengaku terpaksa kembali bekerja karena membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan pokok, meski menyadari adanya risiko ketika harus bekerja di tengah kondisi kebun yang dipenuhi debu.

“Han, terpaksa ai karna handak menukar baras paksa diturih dengan resiko yang patal karna debunya terhirup nah,” ujar Dullah.

Keluhan tersebut kemudian disampaikan secara langsung kepada pihak PT Arutmin Indonesia Site Asam-Asam dalam pertemuan yang difasilitasi pemerintah desa.

Safety Health Supervisor PT Arutmin Indonesia Site Asam-Asam, Budi Kuswanto, mengatakan perusahaan memiliki sistem monitoring lingkungan.

Menurut Budi, dugaan mengenai sumber debu perlu dibuktikan melalui data hasil pengukuran di lapangan.

Pertemuan berlangsung aman dan lancar. Namun, hingga pertemuan berakhir belum terdapat kesepakatan antara warga dan pihak perusahaan terkait keluhan tersebut.

Di akhir pertemuan, Dullah menyerahkan dokumen berupa foto dan surat tertulis mengenai keluhan kondisi kebun kepada pihak PT Arutmin Indonesia Site Asam-Asam. Penyerahan tersebut disaksikan langsung oleh Kepala Desa Asam-Asam.

Warga berharap persoalan sebaran debu di perkebunan tersebut dapat segera ditindaklanjuti dan ditemukan solusinya, sehingga mereka dapat kembali menyadap karet dengan tenang seperti sebelumnya. (Rasyid)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *