TANAH BUMBU, Kalsel | takam5.com — Fenomena bullying dan tawuran pelajar yang kian marak di berbagai daerah menjadi sorotan serius. Sejumlah kasus yang beredar luas di media sosial menunjukkan bahwa kekerasan di kalangan remaja masih menjadi persoalan mendesak yang memerlukan penanganan komprehensif.
Ketua Badan Kehormatan DPRD Tanah Bumbu, Abdul Rahim, menilai upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum maupun pihak sekolah. Ia menegaskan, peran orang tua menjadi kunci utama dalam membentuk karakter anak agar tidak terjerumus dalam perilaku menyimpang.
Saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (1/5), Rahim mengungkapkan keprihatinannya terhadap meningkatnya kasus kekerasan di kalangan pelajar.
“Kami mengharapkan para orang tua, khususnya di Kabupaten Tanah Bumbu, untuk terus memantau dan mengawasi anak-anaknya. Bangun komunikasi yang baik agar mereka tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah,” ujarnya.
Menurut Rahim, selain keluarga, sekolah juga memiliki tanggung jawab besar dalam membina karakter siswa. Ia mendorong agar institusi pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga memperkuat pendidikan moral dan sosial.
“Sekolah harus lebih aktif memberikan edukasi, termasuk program pencegahan bullying, layanan konseling, serta deteksi dini terhadap potensi konflik antar siswa,” katanya.
Ia mengingatkan, tanpa langkah konkret dan kolaboratif dari berbagai pihak, potensi kekerasan di kalangan pelajar akan terus berulang dan berdampak luas.
“Jangan sampai kita kehilangan lagi generasi muda hanya karena aksi kekerasan yang sebenarnya bisa dicegah,” tegasnya.
Rahim menambahkan, bullying dan tawuran bukan sekadar kenakalan remaja. Dampaknya dapat mengganggu perkembangan fisik, mental, hingga sosial anak. Korban berisiko mengalami trauma psikologis, penurunan kepercayaan diri, bahkan depresi, sementara pelaku berpotensi tumbuh dengan perilaku agresif hingga dewasa.
Di sisi lain, tawuran pelajar kerap berujung pada luka berat hingga korban jiwa. Kondisi ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga mencoreng dunia pendidikan dan mengancam masa depan generasi penerus bangsa.
Karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat dalam mencegah kekerasan di kalangan pelajar. Lingkungan yang positif, menurutnya, dapat membantu membentuk perilaku remaja ke arah yang lebih baik melalui berbagai kegiatan sosial, olahraga, maupun komunitas kreatif.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pembinaan generasi muda tidak bisa dilakukan secara parsial. Kolaborasi yang berkelanjutan dinilai menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.
Dengan langkah bersama dan kesadaran kolektif, diharapkan kasus bullying dan tawuran pelajar dapat ditekan, sehingga generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan berdaya saing. (Tim)






