Kotabaru, Kalsel | TAKAM5.COM — Sepuluh hari telah berlalu sejak tragedi kelam menyelimuti Desa Pelajau Baru, Kecamatan Kelumpang Hilir, Kabupaten Kotabaru. Namun, riak duka dan rasa kehilangan tak sedikit pun mengikis dari dada keluarga yang ditinggalkan, maupun masyarakat setempat yang terbiasa hidup dalam naungan kebaikan almarhum Abdullah (57). Kepergian sang tokoh agama secara mendadak tersebut tidak hanya meninggalkan kepedihan mendalam bagi sang istri, Lusiana, dan anak-anaknya, tetapi juga membuat masyarakat Pelajau Baru merasa kehilangan sesosok “pelayan umat” yang selama ini menjadi pilar keagamaan serta kedamaian di desa mereka.

Dalam suasana duka yang masih menyeruak, tim media ini sempat mengulik kenangan dan kisah hidup almarhum melalui saudara kandungnya, Wasiadi. Dari deretan cerita yang mengalir, terpancar jelas rekam jejak keteladanan seorang Abdullah sebagai sosok yang mendedikasikan seluruh sisa hidupnya untuk berbakti kepada masyarakat dan Sang Pencipta. Hal itulah yang membuat almarhum bukan sekadar tetangga biasa di mata warga RT 05 RW 02 Desa Pelajau Baru, melainkan sosok yang sangat dicintai karena kerendahan hati dan kesiapannya membantu siapa saja tanpa pamrih.

Keseharian almarhum memang diwarnai dengan pengabdian yang tulus di tengah masyarakat. Sebagai seorang marbot masjid, jemarinya tak pernah lelah menjaga kebersihan dan kesucian rumah ibadah demi kenyamanan para jamaah. Tidak berhenti sampai di situ, di saat warga membutuhkan khatib untuk salat Jumat atau penceramah dalam acara syukuran dan hajatan, nama Abdullah selalu menjadi harapan utama, di mana petuah serta tausiyah keagamaannya dikenal menyejukkan hati karena selalu menyampaikan pesan kedamaian dan pentingnya menjaga tali silaturahmi.

Bahkan dalam urusan yang paling krusial dan sakral sekalipun, almarhum kerap dipercaya sebagai mudin atau sosok yang dengan penuh keikhlasan memandikan dan mengurus jenazah warga yang wafat. Keterampilannya dalam menjalankan syariat pemulasaraan jenazah menjadikan almarhum sebagai penolong utama di saat warga sedang dirundung kemalangan. “Beliau itu orangnya ringan tangan. Kalau ada kegiatan sosial atau keagamaan, tidak pernah menolak jika dimintai bantuan,” kenang Wasiadi dengan mata berkaca-kaca saat menceritakan kepribadian sang kakak.

Sifat dasar almarhum yang selalu ingin menolong sesama dan mendamaikan perselisihan inilah yang pada akhirnya membawa langkah kakinya pada malam naas tersebut. Almarhum melangkah keluar rumah semata-mata membawa niat suci untuk merukunkan kembali rumah tangga tetangganya yang sedang bergolak, demi mengharap keridaan dan pahala dari Allah SWT. Meski kini jasadnya telah terbujur kaku di liang lahat dan keadilan hukum tengah diperjuangkan oleh keluarga, nama Abdullah tetap membekas harum di sanubari masyarakat Desa Pelajau Baru, di mana kenangan akan keteladanan, suara tausiyah, dan kebaikan jemarinya mengurus rumah Allah akan terus hidup serta dikenang abadi. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *