Kotabaru, Kalsel | TAKAM5.COM – Ruang belajar yang lapuk, lantai berlubang, dan papan dinding yang rusak, begitulah gambaran SMA Negeri 1 Sampanahan Lokasi 2 di Desa Gunung Batu Besar. Sekolah ini menjadi bukti nyata tantangan pendidikan di pelosok, di mana siswa belajar dalam keterbatasan fasilitas yang memprihatinkan. Bangunan kayu yang mulai lapuk, atap dan fasilitas Toilet yang hanya terbuat dari kayu dan seng, serta meja dan kursi belajar yang rusak akibat rayap, mencerminkan kondisi sekolah yang jauh dari kata layak.

InCollage 20241102 165812319 11zon
Kondisi Ruang Kelas, Toilet, teras depan. (Foto Dok: takam5.com).

Kamijo, SE., Gr., kepala pengelola di lokasi ini, mengakui bahwa kondisi sekolah jauh dari kata layak. “Untuk perbaikan, kadang-kadang kami bergantung pada urunan dari siswa. Jika ada anak-anak yang nilainya kurang, kami meminta mereka menyumbang kebutuhan kecil seperti kalsiboard. Dari sekolah induk sendiri, bantuan biasanya hanya dalam bentuk dana konsumsi,” ujar Kamijo di kantor sekolah, Kamis (31/10/24).

Kamijo menambahkan, bangunan yang digunakan saat ini masih merupakan aset desa, sehingga ia tidak bisa mengajukan dana perbaikan secara formal. “Karena bangunan ini milik desa,” jelasnya.

SMA Negeri 1 Sampanahan Lokasi 2 ini menampung 116 siswa yang setiap harinya belajar dalam keterbatasan. Ruangan yang dipergunakan oleh Sekolah ini ada 3 ruang kelas, 1 ruang guru, dan Toilet yang sangat sederhana. Meskipun sekolah induk di Desa Sampanahan Hilir hanya berjarak sekitar satu jam perjalanan darat atau 30 menit menggunakan perahu, pilihan untuk bersekolah di lokasi ini tetap menjadi yang utama bagi banyak siswa.

Aliya Syarida Putri, siswa kelas 11, mengaku sudah terbiasa dengan kondisi ini meski berharap adanya perbaikan. “Dari dulu memang keadaannya seperti ini, tapi sekarang ada sedikit perbaikan kecil. Harapannya, sekolah bisa lebih nyaman dan kondisinya tidak mengganggu proses belajar,” ujarnya.

Selain kenyamanan, kondisi bangunan yang rapuh juga menimbulkan tantangan tersendiri, terutama saat musim hujan. “Kalau hujan, atap sering bocor, lantai kadang tempias, bahkan hewan bisa masuk ke kelas. Pernah ada teman yang terperosok karena lantainya lapuk, meski hanya luka ringan,” tambah Aliya.

Bagi para orang tua, alasan utama memilih sekolah ini adalah lokasinya yang lebih dekat dan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan dengan sekolah induk. “Mau tidak mau, anak kami sekolah di sini karena biaya lebih ringan dan jaraknya sangat dekat.

Perjalanan ke sekolah induk memakan waktu lebih lama dan jalanan juga rusak,” kata salah seorang orang tua siswa. Mereka juga mengaku khawatir dengan kondisi sekolah yang tidak layak dan berharap pemerintah segera merealisasikan rencana pembangunan untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak mereka.

 

(Red).

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *