Kotabaru, Kalsel | TAKAM5.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotabaru menutup tahun 2025 dengan capaian kinerja yang solid di tengah keterbatasan anggaran. Meski dana terbatas, BPBD tetap menunjukkan respons cepat dan sigap dalam menangani berbagai kejadian bencana di wilayah Bumi Saijaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotabaru, Hendra Indrayana, menegaskan bahwa keberhasilan lembaganya tidak diukur dari besarnya serapan anggaran, melainkan dari efektivitas kehadiran pemerintah saat masyarakat menghadapi situasi darurat.
“Kami tidak mengejar serapan anggaran. Justru semakin sedikit anggaran yang digunakan, itu berarti bencana yang terjadi semakin minim. Dan itulah keberhasilan yang sesungguhnya,”ujar Hendra saat diwawancarai, Selasa (13/1/2026).
Sepanjang tahun 2025, BPBD Kotabaru aktif turun langsung ke lokasi-lokasi terdampak bencana. Penyaluran bantuan dilakukan secara cepat dan terkoordinasi sesuai arahan Bupati Kotabaru, yang menekankan pentingnya kehadiran pemerintah sebagai garda terdepan saat krisis terjadi.
Salah satu capaian strategis BPBD pada 2025 adalah rampungnya Kajian Risiko Bencana (KRB) yang telah disahkan oleh pemerintah pusat. Selain itu, BPBD juga memperkuat sistem penyampaian informasi kebencanaan berbasis digital untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efisien.
“Indikator utama kinerja kami adalah edukasi kebencanaan. Karena wilayah Kotabaru sangat luas, kami memanfaatkan media sosial dan video pendek agar pesan keselamatan dapat menjangkau masyarakat dengan cepat,” jelasnya.
Memasuki tahun 2026, BPBD Kotabaru berencana meluncurkan sistem informasi kebencanaan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna mempercepat penyebaran informasi serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat secara real time.
Selain itu, program Desa Tangguh Bencana (Destana) tetap menjadi prioritas utama. Program ini bertujuan melatih masyarakat desa agar mampu mandiri dan tanggap dalam menghadapi bencana sesuai potensi risiko wilayah masing-masing.
“Kami melatih desa berdasarkan hasil KRB. Jika suatu desa rawan banjir, maka warganya kami bekali pengetahuan dan simulasi agar dapat bertindak cepat tanpa harus menunggu bantuan dari kabupaten,”ungkap Hendra.
Prestasi program Destana Kotabaru juga mendapat pengakuan nasional dengan meraih penghargaan pada ajang Diklatpim II di Semarang. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari penerapan strategi HEBAT, yang merupakan akronim dari Hexahelix, Edukatif, Beraksi, Antisipatif, dan Tangguh.
Strategi Hexahelix melibatkan enam unsur pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, media massa, serta sinergi kolaboratif antar pihak.
“Kolaborasi adalah kunci. Media berperan menyebarkan informasi, dunia usaha mendukung logistik, akademisi memberikan kajian ilmiah, dan masyarakat menjadi ujung tombak di lapangan,” tambahnya.
Menutup wawancara, Hendra menyampaikan harapannya agar Kotabaru terhindar dari bencana besar di tahun 2026.
“Kami berharap tidak ada bencana besar. Namun jika itu terjadi, masyarakat sudah lebih siap. Kekuatan kita ada pada gotong royong dan kesadaran bersama,” tutupnya.
(Ril)





