Kotabaru, Kalsel | TAKAM5.COM — Niat baik untuk mendamaikan prahara rumah tangga berujung tragedi berdarah di Jalan Raya Serongga, Desa Batu Ampar, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu. Abdullah (57), seorang tokoh agama asal Desa Pelajau Baru RT 05 RW 02, Kecamatan Kelumpang Hilir, Kabupaten Kotabaru, tewas mengenaskan akibat sabetan senjata tajam jenis parang pada Rabu (12/8/2026) malam sekira pukul 20.00 WITA. Korban yang dikenal warga sebagai sosok yang baik, religius, serta ringan tangan dalam kegiatan keagamaan maupun sosial tersebut mengembuskan napas terakhirnya saat berusaha membantu menengahi konflik keluarga tetangganya.

Baca juga Berita dari Eksternal:

https://www.bameganews.com/cekcok-berujung-maut-pria-57-tahun-tewas-di-desa-batu-ampar-simpang-empat-tanah-bumbu-terduga-pelaku-diamankan-polisi/

Kasus ini secara resmi telah ditangani oleh jajaran Satreskrim Polres Tanah Bumbu berdasarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STTLP) bernomor STTLP/50/VIII/2026/SPKT/POLRES TANAH BUMBU/POLDA KALIMANTAN SELATAN. Laporan dibuat langsung oleh saudara kandung korban, Wasiadi (53), pada Rabu malam pukul 23.41 WITA, beberapa jam setelah peristiwa merenggut nyawa korban. Dalam berkas kepolisian tersebut, terduga pelaku atas nama Mispan disangkakan dengan pasal berlapis dugaan tindak pidana pembunuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 458 Ayat (1) Subsider Pasal 466 Ayat (3) UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

Berdasarkan penuturan putri kandung korban, Ifti Handayani, keterlibatan ayahnya dalam urusan rumah tangga pelaku bukan atas kehendak pribadi, melainkan karena didatangi berulang kali oleh pihak keluarga dan teman pelaku. Rangkaian peristiwa bermula pada Senin (10/8/2026) sekitar pukul 19.00 WITA, ketika Si’is (kakak kandung pelaku) bersama Supriaman (tetangga pelaku) mendatangi kediaman almarhum Abdullah. Kedatangan keduanya bertujuan meminta bantuan Abdullah untuk memediasi percekcokan rumah tangga antara adik Si’is, Mispan, dengan istrinya, Nurwanti.

Pertemuan kedua terjadi pada Selasa (11/8/2026) sore sekira pukul 16.00 WITA. Supriaman kembali datang menjemput Abdullah menggunakan sepeda motor untuk menemui Nurwanti di kediamannya. Puncaknya terjadi pada Rabu (12/8/2026) setelah salat Magrib. Usai melaksanakan salat Magrib berjamaah di musala yang berada di samping rumah, Abdullah kembali didatangi Si’is dan Supriaman. Keduanya datang ke rumah korban untuk menjemput Abdullah, kemudian mereka berangkat bersama menggunakan mobil menuju tempat kerja Mispan di Desa Batu Ampar.

Setibanya di lokasi kerja yang berupa bangunan belum selesai dibangun pada sekitar pukul 20.00 WITA, usai waktu Isya, korban diduga diserang secara mendadak oleh Mispan menggunakan senjata tajam jenis parang. Serangan tersebut menyebabkan Abdullah meninggal dunia di lokasi kejadian, yang berada pada titik koordinat -3.2640400, 115.9993970.

Kepergian Abdullah yang begitu mendadak meninggalkan luka mendalam sekaligus kekecewaan besar bagi pihak keluarga. Ifti Handayani menegaskan bahwa ayahnya tidak memiliki masalah atau dendam pribadi dengan pelaku. “Bapak saya itu dijemput, bukan kehendak sendiri. Sampai beliau itu yang meminta tolong datang tiga kali menjemput bapak saya. Ketika kejadian, bapak saya terluka sampai meninggal, yang dua (Si’is dan Supriaman) tidak apa-apa. Kami mohon segera ada tindak lanjut, jangan dibiarkan lama-lama,” tegas Ifti Handayani Minggu (16/8).

Penegasan serupa disampaikan oleh istri almarhum, Lusiana. Ia mempertanyakan sikap dua orang penjemput yang dinilainya tidak bertanggung jawab saat serangan terjadi. “Hukum di negara ini harus diterapkan seadil-adilnya, baik yang menjemput Bapak sampai pembunuhnya. Yang dua orang menjemput itu enggak bertanggung jawab, pas kejadian malah lari. Buktinya utuh enggak kena apa-apa, alasannya ada yang kencing, ada yang lari tempatnya gelap. Beliau itu tulang punggung saya, hati saya hancur berkeping-keping,” tutur Lusiana dengan nada emosional.

Di sisi lain, Nurwanti selaku istri dari pelaku Mispan memberikan kesaksian berbeda terkait proses mediasi tersebut. Nurwanti secara tegas menyatakan bahwa dirinya maupun sang anak sebenarnya telah melarang keras almarhum Abdullah untuk berangkat mendatangi suaminya di Batu Ampar. “Lillahi ta’ala saya tidak ada menyuruh Pak Abdullah, saya tidak ada mendatangi atau meminta tolong ke Pak Supriaman. Sebelum berangkat, Pak Abdullah memang sempat mampir pamitan izin ke rumah saya sebelum Maghrib. Tapi sudah saya dan anak saya larang, ‘Gak usah Pak, nanti saja sama adik saya’. Tapi Pak Supriaman sama kakak (Si’is) tetap ngeyel mengajak,” kata Nurwanti saat diwawancarai media ini pada Minggu (16/8).

Nurwanti menengarai adanya provokasi atau isu salah paham yang menjadi pemicu emosi suaminya hingga nekat membawa senjata tajam. Sebelum rombongan tiba di tempat kerja Mispan, kendaraan yang ditumpangi Supriaman dan rombongan diduga sempat mampir di sebuah warung milik warga bernama Jubaidah. “Suami saya kan kerja bangunan di Batu Ampar. Sebelum sampai, Supriaman mampir dulu ke warung Jubaidah. Nah, pemilik warung itu lalu menelpon suami saya, katanya ada orang satu mobil datang mau mengeroyok. Mungkin kayak itu ngomongnya jadi Suami saya di sana kaget dan langsung emosi, dikira mau dikeroyok. Padahal tidak ada. Saya tidak terima sama Supriaman, dia seperti Sengkuni yang merusak rumah tangga orang. Saya minta dia juga diproses hukum,” tegas Nurwanti.

Menanggapi tudingan yang mengarah kepada mereka, Si’is dan Supriaman memberikan penjelasannya secara rinci mengenai situasi di tempat kejadian perkara. Si’is menjelaskan bahwa kondisi di lokasi kejadian saat itu dalam keadaan remang dan gelap karena bangunan rumah belum selesai dikerjakan. Begitu mobil berhenti, pelaku Mispan sudah berdiri di teras dengan membawa senjata tajam dalam kondisi sangat emosional. “Datang langsung dikasih tahu begitu, dia sudah pakai senjata. Belum sempat ngobrol atau menasihati, dia langsung berteriak, ‘Jangan ikut campur keluarga saya!’. Karena dia memegang parang dan ngamuk, saya mundur-mundur menyelamatkan diri. Kita tidak membawa apa-apa, jadi langsung lari untuk melapor ke polisi,” ungkap Si’is.

Sementara itu, Supriaman dalam wawancara terpisah menegaskan bahwa keberadaannya murni atas ajakan Si’is untuk membantu mengantarkan ke lokasi. “Pak Ciis yang ngajak saya, meminta tolong karena kasihan adik dan istrinya cekcok supaya bisa rukun kembali. Niat dari rumah itu murni baik. Sampai di lokasi kondisinya gelap usai Isya. Saya turun duluan dari mobil karena mau kencing di samping rumah. Tiba-tiba di dalam/teras langsung terjadi serangan bacokan. Saya tidak sempat melerai atau ngomong apa-apa, hanya bisa berteriak-teriak minta tolong,” aku Supriaman.

Keduanya membantah tuduhan melarikan diri lepas tangan. Usai berhasil menyelamatkan diri dari amukan pelaku, Si’is dan Supriaman mengaku langsung menuju ke Polsek Serongga untuk melaporkan insiden pembunuhan tersebut agar segera ditangani aparat kepolisian. Saat ini, kasus tersebut ditangani oleh jajaran kepolisian Polres Tanah Bumbu untuk proses penyidikan lebih lanjut guna mengungkap seluruh fakta dan motif di balik peristiwa tragis ini. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *