TANAH LAUT, KALSEL | TAKAM5.COM — Warga Desa Asam-Asam, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mengeluhkan debu yang diduga berasal dari aktivitas conveyor PT Arutmin Indonesia Tambang Asam-Asam. Debu tersebut disebut menyebar ke kawasan perkebunan warga dan menempel pada tanaman.

Keluhan itu disampaikan warga melalui sebuah baliho yang dibentangkan di tengah kebun. Pada baliho tersebut tertulis, “DEBU ARUTMIN SANGAT MERESAHKAN BAGI WARGA KAMI TOLONG BERTANGGUNG JAWAB!!!”

Pantauan di lapangan, Senin (21/9/2026), memperlihatkan sejumlah daun tanaman karet dan gaharu di kebun milik H. Dullah tertutup lapisan debu berwarna hitam kecoklatan yang terlihat menempel pada permukaan daun.

H. Dullah mengatakan kondisi tersebut telah menjadi keresahan bagi dirinya dan warga sekitar. Ia menyebut tanaman gaharu yang sebelumnya tumbuh di lahannya mengalami penurunan jumlah secara signifikan.

“Dulu ada sekitar 250 pohon gaharu. Sekarang yang bertahan tinggal sekitar 40 batang,” ujar H. Dullah.

Ia menduga debu yang menempel pada permukaan daun mengganggu proses fotosintesis tanaman sehingga menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh secara optimal dan sebagian di antaranya kemudian mati.

“Di sekitar sini, tidak ada conveyor lain. Hanya punya PT Arutmin,” katanya.

Menurut H. Dullah, persoalan tersebut tidak hanya berdampak terhadap tanaman gaharu. Produktivitas kebun karet warga juga disebut ikut mengalami penurunan.

Ia juga menyoroti persoalan dari sisi kesehatan. Menurutnya, debu yang berada di sekitar perkebunan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi warga karena kawasan tersebut merupakan tempat mereka bekerja sekaligus mencari penghasilan.

“Handak kaya apalagi di sini, tempat kami cari rezeki,” tuturnya.

Lokasi perkebunan yang menjadi tempat warga menyampaikan keluhan tersebut berada tidak jauh dari fasilitas PT Arutmin Indonesia Tambang Asam-Asam.

Pada hari yang sama, awak media kemudian menuju kawasan kantor perusahaan untuk melihat kondisi di sekitar lokasi. Jalur akses menuju kantor site PT Arutmin Indonesia Tambang Asam-Asam terlihat dalam kondisi kering dan berkerikil. Debu juga tampak berada di permukaan jalan.

Tidak jauh dari lokasi tersebut, terlihat sebuah billboard berukuran besar yang terpasang di antara pepohonan akasia. Pada bagian billboard terdapat pesan bertema lingkungan bertuliskan “WORLD ENVIRONMENT DAY 2026 TAMBANG ASAM-ASAM Inspired by Nature.”

Dalam bahasa Indonesia, tulisan tersebut berarti “Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 Tambang Asam-Asam, Terinspirasi oleh Alam.”

Pantauan tersebut tidak serta-merta menjadi kesimpulan mengenai sumber maupun dampak debu terhadap tanaman. Untuk mendapatkan penjelasan dari pihak perusahaan, awak media kemudian mencoba meminta klarifikasi langsung kepada PT Arutmin Indonesia Tambang Asam-Asam, khususnya mengenai keluhan warga dan dugaan sumber debu dari aktivitas conveyor.

Namun, upaya konfirmasi belum sampai kepada pihak manajemen perusahaan. Awak media hanya dapat melakukan konfirmasi melalui pos keamanan.

Petugas keamanan menyampaikan bahwa Kepala Teknik Tambang (KTT) sedang tidak berada di tempat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Arutmin Indonesia Tambang Asam-Asam belum memberikan keterangan resmi mengenai keluhan warga maupun dugaan dampak debu terhadap tanaman di sekitar kawasan tersebut.

Redaksi TAKAM5.COM tetap membuka ruang hak jawab dan hak koreksi bagi pihak PT Arutmin Indonesia sesuai dengan prinsip pemberitaan berimbang dan amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. (Rasyid)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *